Medan – Tim peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Potensi Utama berhasil menyelesaikan penelitian strategis yang berfokus pada penguatan daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sektor depot air isi ulang di Kota Binjai, Sumatera Utara. Penelitian yang diketuai oleh Kartika Sari Lubis, S.E., Msc, bersama anggota tim Aisyah Azhar Adam, S.E., M.M, Dr. Yusriadi, S.E., M.M, Ari Prabowo, S.E.,
M.Si, dan mahasiswi Najwa Salsabilla Azzahra ini, mengangkat judul
"Analisis SWOT Sebagai Strategi Penguatan Daya Saing UMKM Depot Air Isi Ulang Pasca Pendampingan Manajerial dan Digitalisasi."
Penelitian yang berlangsung selama 6 bulan ini dilatarbelakangi oleh peran vital UMKM yang berkontribusi lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Namun, sektor depot air isi ulang masih menghadapi tantangan klasik seperti rendahnya standar layanan, pencatatan keuangan yang belum sistematis, serta minimnya pemanfaatan teknologi digital. Melihat kondisi tersebut, tim peneliti tidak hanya melakukan pendampingan manajerial dan digitalisasi, tetapi juga menganalisis dampaknya secara strategis.
"Kami memberikan pendampingan berupa pelatihan pemasaran digital melalui Google Maps dan WhatsApp Business, efisiensi operasional distribusi, serta pencatatan keuangan digital menggunakan aplikasi. Setelah itu, kami melakukan analisis SWOT untuk memetakan posisi usaha mereka," ujar Kartika Sari Lubis, ketua tim peneliti.
Hasil penelitian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan studi kasus terhadap lima mitra UMKM di Kota Binjai menunjukkan temuan menarik. Analisis SWOT mengungkapkan bahwa kekuatan utama (Strengths) UMKM terletak pada kemampuan layanan cepat dan kemauan mengadopsi teknologi, sementara kelemahan (Weaknesses) yang masih menonjol adalah rendahnya literasi keuangan dan pemasaran strategis.
Dari sisi eksternal, peluang (Opportunities) terbuka lebar seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan air minum higienis dan akses teknologi yang semakin mudah. Namun, ancaman (Threats) datang dari kompetisi harga antar depot dan belum adanya standar kualitas operasional yang baku.
Berdasarkan pemetaan tersebut, tim peneliti merumuskan empat strategi TOWS. Strategi S-O memaksimalkan visibilitas digital untuk merebut peluang pasar baru. Strategi W-O fokus pada pelatihan lanjutan untuk mengatasi kelemahan pencatatan keuangan. Strategi S-T menekankan diferensiasi layanan berbasis kecepatan untuk menghadapi kompetitor, dan strategi W-T mengutamakan pengembangan SOP serta digitalisasi operasional.
Dr. Yusriadi, salah satu anggota tim peneliti, menambahkan bahwa digitalisasi bukan sekadar adopsi teknologi, tetapi perubahan pola pikir dalam pengelolaan usaha. "Masih ada kesenjangan antara penguasaan teknologi dan kemampuan memanfaatkan data bisnis secara strategis. Karena itu, pendampingan berkelanjutan sangat diperlukan," jelasnya.
Penelitian ini merekomendasikan tiga hal utama. Pertama, perlunya program pelatihan lanjutan yang berkelanjutan. Kedua, pemerintah daerah diharapkan menyusun kebijakan standarisasi operasional depot air isi ulang. Ketiga, kolaborasi antara akademisi dan pelaku UMKM perlu diformalkan melalui program pendampingan rutin yang terstruktur.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah dan diharapkan mampu memberikan kontribusi teoretis dalam pemetaan strategi UMKM sekaligus kontribusi praktis bagi pelaku usaha dan pemangku kepentingan dalam merancang program intervensi berbasis kebutuhan lokal.
"Kami optimis, dengan strategi yang tepat, UMKM depot air isi ulang dapat tumbuh berkelanjutan dan bersaing di ekosistem bisnis yang semakin digital," tutup Kartika Sari Lubis.