Medan – Tim peneliti dari Universitas Potensi Utama berhasil menyelesaikan penelitian strategis berjudul "Eksistensi dan Transformasi Budaya Lokal dalam Strategi Ketahanan Ekonomi di Kota Padang, Sumatera Barat." Penelitian yang didanai oleh Program Dana Padanan (PDP) Kemendikbudristek ini dipimpin oleh Siti Kadariah, S.H.I., M.E, bersama anggota tim Rodi Syahrizal, S.E., M.E, dan mahasiswi Sri Dinda Nila Sari.
Penelitian yang berlangsung selama 6 bulan ini mengungkap bahwa eksistensi budaya lokal merupakan faktor utama yang memengaruhi pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kota Padang. Menggunakan pendekatan One Village One Product (OVOP) dan dianalisis dengan perangkat lunak NVivo 12, tim peneliti mewawancarai sejumlah informan kunci, termasuk Kepala Dinas Perdagangan, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Kepala Dinas Koperasi dan UKM, serta Kepala Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kota Padang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa permasalahan utama dalam pengembangan UKM di Kota Padang adalah menurunnya internalisasi nilai budaya lokal, yang berdampak pada hilangnya kekhasan produk lokal. Berdasarkan persentase jawaban responden, Lembaga Adat mencatat angka tertinggi (57,14%) dalam menyoroti masalah ini, disusul Dinas Koperasi dan UKM (22,22%), serta Dinas Perdagangan (16,67%).
"Budaya lokal bukan hanya warisan sosial, tetapi juga modal ekonomi yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Nilai-nilai kearifan lokal seperti gotong royong dan kreativitas komunitas seharusnya menjadi fondasi penguatan ekonomi berbasis komunitas," ujar Siti Kadariah, Ketua Tim Peneliti.
Selain eksistensi budaya, penelitian ini juga mengidentifikasi sejumlah faktor lain yang memengaruhi daya saing UKM, yaitu segmentasi pasar, perilaku konsumen, penegakan regulasi, pendanaan, serta kemampuan branding produk. Dari seluruh aspek tersebut, rendahnya literasi digital menjadi salah satu kendala terbesar. Sebagian besar pelaku UKM belum mampu menggunakan sistem perizinan online, media sosial, maupun aplikasi layanan digital secara optimal, sehingga proses pemasaran dan perizinan berjalan lambat dan tidak efisien.
Temuan lain yang tak kalah penting adalah belum optimalnya kolaborasi antara pemerintah daerah, dinas terkait, dan lembaga adat. Bentuk kolaborasi yang sudah berjalan seperti pendampingan UKM, festival dan bazar, serta bantuan modal usaha masih bersifat parsial. Dinas Koperasi dan UKM mencatat kolaborasi sebesar 28%, Dinas Perdagangan 44,44%, DPMPTSP 100%, namun Lembaga Adat hanya 20%. Sementara itu, dalam hal pemasaran ke toko modern, Lembaga Adat justru mencatat angka 40%, lebih tinggi dibanding dinas lainnya.
Dari sisi kebijakan, penelitian mengonfirmasi bahwa pemerintah telah menerapkan berbagai regulasi pendukung UKM, namun pengawasan belum berjalan efektif. Seluruh responden (100%) menyatakan bahwa penerapan peraturan telah dilakukan, tetapi tidak ada mekanisme pengawasan terpadu. Masing-masing dinas dan lembaga adat menjalankan pengawasan secara terpisah, sehingga terjadi tumpang tindih kebijakan dan kurangnya kejelasan implementasi di lapangan.
"Pengawasan UKM di Kota Padang dilaksanakan secara terpisah oleh masing-masing dinas dan lembaga adat, sehingga tidak ada mekanisme yang jelas dalam menciptakan iklim UKM yang sehat. Ini perlu segera dibenahi," tambah Rodi Syahrizal, anggota tim peneliti.
Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi ketahanan ekonomi berbasis budaya lokal di Kota Padang belum dimaksimalkan karena tiga faktor utama: keterbatasan teknologi, kurangnya kolaborasi lintas sektor, dan minimnya pengawasan kebijakan. Namun, potensi budaya Minangkabau yang kuat masih dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi melalui peningkatan kolaborasi, pelatihan literasi digital bagi UKM, serta penguatan branding berbasis kearifan lokal.
Penelitian ini merekomendasikan agar pemerintah dan tokoh adat meningkatkan kolaborasi secara aktif dalam memberikan bantuan modal, menciptakan merek baru, dan membuka akses pemasaran ke toko-toko modern. Selain itu, diperlukan pendampingan UKM yang berkelanjutan serta penyelenggaraan festival secara rutin untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekaligus mempromosikan budaya lokal.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah dan diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pembangunan ekonomi yang adaptif, inovatif, dan tetap berpijak pada kearifan lokal.