Medan – Laporan keuangan perusahaan merupakan sumber informasi utama bagi investor dan pemangku kepentingan dalam menilai kinerja perusahaan. Namun, praktik manajemen laba (earnings management)—tindakan manajemen yang sengaja mempengaruhi angka laba atau komponen laporan keuangan melalui pilihan kebijakan akuntansi untuk mencapai tujuan tertentu—masih menjadi tantangan serius dalam dunia akuntansi dan keuangan. Praktik ini dapat terjadi melalui perataan laba (income smoothing), pergeseran periode pengakuan pendapatan dan beban, hingga manipulasi komponen akrual.
Menjawab permasalahan tersebut, tim peneliti dari Program Studi Manajemen dan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Potensi Utama, melakukan penelitian mendalam mengenai pengaruh profitabilitas, likuiditas, dan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba pada sub sektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2017–2021.
Penelitian yang berlangsung selama 6 bulan pada tahun 2023 ini diketuai oleh Rahmayanti Hasibuan (mahasiswa Program Studi Akuntansi), bersama anggota peneliti Emi Masyitah, S.Pd., M.Ak. , dosen Program Studi Manajemen. Dengan anggaran penelitian sebesar Rp14.150.000 dari pendanaan internal Universitas Potensi Utama, tim berhasil mengungkap faktor-faktor yang mempengaruhi praktik manajemen laba pada perusahaan farmasi di Indonesia.
Latar Belakang dan Fenomena Manajemen Laba
Manajemen laba dilakukan dengan mempermainkan komponen-komponen akrual dalam laporan keuangan, sebab pada komponen akrual dapat dilakukan permainan angka melalui metode akuntansi yang digunakan sesuai dengan keinginan orang yang melakukan pencatatan dan penyusunan laporan keuangan. Komponen akrual merupakan komponen yang tidak memerlukan bukti kas secara fisik sehingga mempermainkan besar kecilnya komponen akrual dapat dilakukan tanpa disertai bukti kas yang jelas.
Perusahaan sub sektor farmasi dipilih sebagai objek penelitian karena sektor ini memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional, terutama pasca pandemi COVID-19. Perusahaan farmasi dituntut untuk terus berinovasi dan menjaga kinerja keuangan yang stabil, sehingga potensi terjadinya manajemen laba menjadi lebih tinggi.
"Laba merupakan salah satu komponen laporan keuangan yang banyak digunakan untuk menilai kinerja suatu perusahaan. Perusahaan yang dapat menghasilkan laba yang tinggi dinilai memiliki kinerja yang baik. Namun, hal ini justru dapat menjadi pemicu manajemen laba, terutama pada perusahaan dengan profitabilitas tinggi dan ukuran besar," ujar Emi Masyitah, anggota tim peneliti.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan populasi seluruh perusahaan sub sektor farmasi yang terdaftar di BEI periode 2017–2021 sebanyak 8 perusahaan. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampel jenuh (total sampling), sehingga seluruh populasi dijadikan sampel penelitian. Total data observasi yang terkumpul sebanyak 40 data laporan keuangan (8 perusahaan × 5 tahun).
Variabel yang diteliti meliputi:
- Profitabilitas (X1) – Kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aset/modal, diproksikan dengan Return on Assets (ROA). Perusahaan berprofit tinggi mungkin kurang terdorong mengelola laba jika target terpenuhi, namun di sisi lain manajemen pada perusahaan profitabel mungkin terdorong mempertahankan citra kinerja dan melakukan income smoothing.
- Likuiditas (X2) – Kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya, diproksikan dengan Current Ratio (CR). Perusahaan dengan likuiditas buruk berisiko mengalami masalah keuangan yang dapat mengancam operasional.
- Ukuran Perusahaan (X3) – Indikator yang menggambarkan besar-kecilnya skala operasional perusahaan, diproksikan dengan logaritma natural total aset (Ln Total Assets).
- Manajemen Laba (Y) – Tindakan manajemen mempengaruhi angka laba melalui pilihan kebijakan akuntansi atau tindakan ekonomi untuk mencapai tujuan tertentu, diproksikan dengan metode akrual diskresioner (model modified Jones).
Hasil Uji Instrumen dan Asumsi Klasik
Uji normalitas Kolmogorov-Smirnov setelah penghapusan 16 data outlier menghasilkan nilai signifikansi 0,123 > 0,05, artinya data residual berdistribusi normal. Uji multikolinearitas menunjukkan nilai tolerance > 0,1 dan VIF < 10, sehingga tidak terjadi korelasi berlebihan antar variabel bebas.
Hasil Analisis Statistik Deskriptif
VariabelNMinimumMaksimumMeanStd. DeviasiProfitabilitas (ROA) | 40 | 0,113 | 30,986 | 6,1810 | 6,15381
Likuiditas (CR) | 40 | 0,907 | 7,812 | 2,6958 | 1,58556
Ukuran Perusahaan | 40 | 20,89 | 30,88 | 25,8260 | 3,77443
Manajemen Laba | 40 | -8,05 | 9,79 | 0,2900 | 2,32808
Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
Persamaan regresi yang diperoleh: Y = -0,598 + 0,993X1 - 0,293X2 + 4,517X3 + e
Interpretasi:
- Konstanta -0,598 menunjukkan bahwa apabila profitabilitas, likuiditas, dan ukuran perusahaan bernilai nol, maka manajemen laba bernilai -0,598.
- Profitabilitas (X1) memiliki koefisien regresi 0,993 – setiap kenaikan profitabilitas sebesar 1 satuan akan meningkatkan manajemen laba sebesar 0,993.
- Likuiditas (X2) memiliki koefisien regresi -0,293 – setiap kenaikan likuiditas sebesar 1 satuan akan menurunkan manajemen laba sebesar 0,293 (pengaruh negatif).
- Ukuran Perusahaan (X3) memiliki koefisien regresi 4,517 – setiap kenaikan ukuran perusahaan sebesar 1 satuan akan meningkatkan manajemen laba sebesar 4,517 (paling dominan).
Uji Hipotesis (Uji Parsial/Uji-t)
VariabelthitungttabelSignifikansiKesimpulanProfitabilitas (ROA) | 3,014 | 1,660 | 0,005 < 0,05 | Berpengaruh Signifikan
Likuiditas (CR) | -1,206 | 1,660 | 0,236 > 0,05 | Tidak Berpengaruh Signifikan
Ukuran Perusahaan | 2,481 | 1,660 | 0,018 < 0,05 | Berpengaruh Signifikan
Penjelasan hasil:
- Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba (H1 diterima). Semakin tinggi profitabilitas perusahaan, semakin besar potensi terjadinya praktik manajemen laba. Perusahaan dengan profitabilitas tinggi cenderung ingin mempertahankan citra kinerja yang baik di mata investor dan pemangku kepentingan.
- Likuiditas tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba (H2 ditolak). Kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya tidak mempengaruhi kecenderungan manajemen untuk melakukan manajemen laba. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki likuiditas baik maupun buruk sama-sama memiliki potensi manajemen laba atau tidak, tergantung faktor lain.
- Ukuran Perusahaan berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba (H3 diterima). Ukuran perusahaan merupakan variabel yang paling dominan mempengaruhi manajemen laba (koefisien 4,517). Perusahaan yang memiliki aset dalam jumlah besar cenderung lebih memperhatikan laba perusahaan dan melakukan tindakan manajemen laba. Manajemen laba juga dapat dilakukan bagi perusahaan yang jumlah aset kecil karena manajemen ingin agar aset perusahaan terlihat dalam jumlah besar pada saat pelaporan.
Uji Simultan (Uji-F)
Uji-F menghasilkan Fhitung 7,681 > Ftabel 2,64 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Artinya, secara bersama-sama (simultan) profitabilitas, likuiditas, dan ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba pada perusahaan sub sektor farmasi yang terdaftar di BEI periode 2017–2021.
Koefisien Determinasi (R Square)
Nilai R Square sebesar 0,390 atau 39% – artinya manajemen laba (variabel dependen) mampu dijelaskan oleh profitabilitas, likuiditas, dan ukuran perusahaan sebesar 39%. Sisanya sebesar 61% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini, seperti leverage, kualitas audit, tata kelola perusahaan (corporate governance), kepemilikan manajerial, komisaris independen, dan rasio aktivitas lainnya.
Pembahasan Temuan Penelitian
1. Pengaruh Profitabilitas terhadap Manajemen Laba
Profitabilitas yang diproksikan dengan ROA terbukti berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Hal ini sejalan dengan teori bahwa perusahaan dengan profitabilitas tinggi cenderung melakukan manajemen laba untuk mempertahankan citra kinerja yang baik. Menurut Gitman dan Zutter (2019), profitabilitas menggambarkan hubungan antara biaya dan pendapatan yang dihasilkan melalui penggunaan aset perusahaan dalam aktivitas produktif. Laba merupakan komponen laporan keuangan yang paling banyak digunakan untuk menilai kinerja perusahaan, sehingga menjadi target utama manajemen laba.
2. Pengaruh Likuiditas terhadap Manajemen Laba
Likuiditas yang diproksikan dengan Current Ratio (CR) terbukti tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya tidak menjadi pemicu atau penghambat praktik manajemen laba. Menurut Purba (2019), aktiva likuid merupakan aktiva yang dapat dengan segera dikonversikan menjadi kas, namun posisi likuiditas tidak serta-merta mempengaruhi perilaku manajemen dalam menyusun laporan keuangan.
3. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Manajemen Laba
Ukuran perusahaan (firm size) terbukti berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba dan menjadi variabel paling dominan (koefisien 4,517). Perusahaan dengan aset besar cenderung memiliki kompleksitas operasional yang tinggi dan tekanan dari pemangku kepentingan yang lebih besar, sehingga mendorong manajemen untuk melakukan manajemen laba. Menariknya, manajemen laba juga dapat dilakukan oleh perusahaan dengan aset kecil karena manajemen ingin agar aset perusahaan terlihat besar pada saat pelaporan.
Kesimpulan Penelitian
- Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba pada perusahaan sub sektor farmasi. Perusahaan dengan profitabilitas tinggi cenderung melakukan manajemen laba untuk mempertahankan citra kinerja.
- Likuiditas tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek tidak mempengaruhi kecenderungan manajemen laba.
- Ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba dan merupakan faktor paling dominan. Perusahaan besar maupun kecil sama-sama berpotensi melakukan manajemen laba.
- Secara simultan, profitabilitas, likuiditas, dan ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
Rekomendasi Strategis
Berdasarkan temuan penelitian, tim peneliti memberikan sejumlah rekomendasi:
- Bagi Perusahaan Sub Sektor Farmasi – Disarankan untuk memperkuat pengawasan internal dan meningkatkan transparansi laporan keuangan, terutama pada perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi dan ukuran besar, karena kedua faktor tersebut terbukti mempengaruhi praktik manajemen laba. Perusahaan perlu menerapkan tata kelola perusahaan (good corporate governance) yang lebih baik untuk mengurangi insentif manajemen laba.
- Bagi Investor – Perlu lebih cermat menilai laporan keuangan perusahaan dengan profitabilitas dan ukuran besar, karena perusahaan pada kondisi tersebut memiliki potensi lebih tinggi melakukan manajemen laba. Analisis mendalam terhadap komponen akrual dan kualitas laba sangat disarankan sebelum mengambil keputusan investasi. Investor juga disarankan untuk tidak hanya mengandalkan rasio profitabilitas semata, tetapi juga melihat arus kas operasional dan indikator kualitas laba lainnya.
- Bagi Penelitian Selanjutnya – Disarankan untuk menambah variabel lain seperti leverage, kualitas audit, tata kelola perusahaan (corporate governance), kepemilikan manajerial, komisaris independen, serta memperluas objek dan periode penelitian agar gambaran pengaruh terhadap manajemen laba semakin akurat dan komprehensif. Penggunaan metode pengukuran manajemen laba yang berbeda juga dapat dipertimbangkan untuk validitas hasil.
Tentang Universitas Potensi Utama
Penelitian ini merupakan wujud komitmen Universitas Potensi Utama dalam mendorong riset di bidang akuntansi dan keuangan, khususnya yang berkaitan dengan kualitas laporan keuangan dan praktik manajemen laba. Kolaborasi antara mahasiswa Program Studi Akuntansi dan dosen Program Studi Manajemen dalam penelitian ini menjadi bukti nyata sinergi akademik yang produktif di lingkungan Universitas Potensi Utama.